Monthly Market Summary Desember 2025
APBN 2025 mencatat defisit Rp695,1 triliun (2,92% GDP) akibat melemahnya penerimaan pajak yang hanya mencapai 87,6% dari target dan total penerimaan negara turun 3,3%, sementara belanja negara mencapai 95,3% dari target dengan lonjakan belanja Kementrian dan Lembaga hingga 129%. Inflasi meningkat menjadi 2,9% YoY, didorong kenaikan inflasi pangan, dan CPI naik 0,6% MoM, dengan tren kenaikan diperkirakan berlanjut pada awal 2026 karena low base effect serta tingginya permintaan saat Ramadan dan Lebaran. Aktivitas manufaktur tetap ekspansif dengan PMI di level 51, mencerminkan permintaan domestik yang solid.
Di pasar obligasi, yield obligasi pemerintah IDR mengalami bull steepening dengan yield 10 tahun turun ke 6,07% dan mencatat return 12,56% sepanjang 2025, sedangkan obligasi USD relatif stabil dengan return 8,87%. Pasar didominasi investor domestik, ditopang perpindahan dari instrumen SRBI dan didukung valuasi yang masih menarik serta potensi pemangkasan suku bunga.
Di pasar saham, IHSG naik 1,6% MoM dengan arus dana asing sebesar USD 723 juta yang terfokus pada saham LQ45 dan MSCI Indonesia, disertai rotasi pada saham konglomerasi. Konsolidasi BUMN diperkirakan menjadi katalis positif, dan pasar berpotensi mencatat return dua digit pada 2026 dengan dukungan pemulihan laba large caps; sektor yang direkomendasikan meliputi logam industri, properti, consumer staples, serta saham siklikal, meskipun risiko global seperti geopolitik, repricing yield, dan percepatan adopsi AI tetap perlu diwaspadai. Simak penjelasan selengkapnya di video berikut.

