Weekly Perspective 05 Agustus 2019

Market Data 2-Aug-19 26-Jul-19 %
IHSG 6,340 6,325 0.20%
EIDO 25.3 25.9 -2.20%
10Yr Indo IDR (%) 7.57 7.22 35 bps
9Yr Indo USD (%) 3.13 3.2 -7 bps
10Yr US Treasury  (%) 1.85 2.07 -23 bps
IDR/USD 14,185 14,009 -1.30%

 

 
Economic Data 19-Jul 19-Jun 19-May
CPI (%YoY) 3.32 3.28 3.32
7-day RR Rate (%) 5.75 6 6
PMI  Manufacturing 49.6 50.6 51.6
CCI   126.4 128.2
FX Reserves ($, bn)    123.8 120.3
Trade Balance ($, mn)   196 219

 

 

 

 

Fed memangkas suku bunga 25bps sesuai ekspektasi, tapi apakah pelonggaran moneter selanjutnya akan sebesar yang diantisipasi pasar?

Global Macro Economy

Pertemuan petinggi Bank Sentral AS, The Federal Reserve, akhir Juli lalu memutuskan untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25bps ke level 2,25%. Langkah pre-emptive Fed ini diupayakan untuk menjaga ekspansi ekonomi terpanjang dalam sejarah AS. Fed memandang pelemahan ekonomi global dan ketegangan dagang antara AS-Tiongkok akan berimbas pada ekonomi AS ke depannya. Sebetulnya, pelonggaran moneter ini sudah diantisipasi dan di-price in oleh pasar sejak awal tahun. Surprise justru datang dari Chairman Fed, Jerome Powell, bahwa ini bukan awal dari siklus pemangkasan rate yang panjang, tapi cut rate ini juga tidak hanya akan satu kali. Hal ini membuat pasar bingung karena ekspektasi awal adalah setelah ini akan ada rate cut tiga kali lagi tahun ini. Trump pun berkomentar, “Seperti biasa, Powell mengecewakan kita”.

 

 

  

IHS Markit menyampaikan Indeks Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,6 di bulan Juli 2019 dari posisi 50,6 di bulan sebelumnya.

Selagi trade talk berlanjut antara AS dan Tiongkok, Trump menjatuhkan 10% tarif terhadap $300 miliar impor dari negeri Tirai Bambu tersebut. “10% tarif ini di luar dari 25%x$250 miliar kemarin”, kata Trump dalam cuitannya di Twitter pekan lalu. Trump berargumen bahwa Tiongkok tidak menepati janjinya untuk membeli produk pertanian lebih banyak serta secara personal mengkritik Presiden Xi Jinping karena Tiongkok berhenti mengirim Fentanyl kepada AS. Fentanyl merupakan opioid yang digunakan sebagai analgesik atau obat bius. Keputusan ini diambil setelah perundingan di Shanghai tidak menghasilkan apapun. Tambahan tarif ini akan berlaku tanggal 01 September 2019 mendatang.

IHS Markit menyampaikan Indeks Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,6 di bulan Juli 2019 dari posisi 50,6 di bulan sebelumnya.

Domestic Macro Economy

Indeks Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,6 di bulan Juli 2019, turun dari 50,6 di bulan sebelumnya. Hal ini menunjukan lesunya industri manufaktur (terendah semenjak Desember 2017), dimana posisi dibawah level 50 mengindikasikan kontraksi dari sisi produksi sedangkan diatas 50 adalah expansi. Penurunan ini disebabkan oleh pelemahan pesanan baru yang tumbuh lebih rendah dan juga stok barang yang masih tinggi; menunjukan perlambatan konsumsi. Walaupun demikian, hasil survei masih menunjukan pelaku bisnis Indonesia tetap optimistis terhadap perkiraan bisnis pada tahun yang akan datang dan memprediksi kondisi pelemahan hanya berlangsung sementara.

Pembiayaan multifinance tumbuh 4,3% YoY di bulan Juni 2019

Per Juni 2019, pembiayaan multifinance hanya tumbuh 4,3% YoY masih jauh dibawah target OJK yang diperkirakan bisa tumbuh 7% YoY pada akhir tahun ini. Salah satu kendala yang dialami industri ini adalah melambatnya penjualan kendaraan bermotor. Selanjutnya, menurut regulator, adanya konsolidasi di industri juga menyebabkan ada beberapa perusahaan multifinance yang biasanya mencatatkan pembiayaan sudah tidak beroperasi lagi.

 

IHSG di level 6.340

Equity Market

Pada minggu lalu IHSG rebound +0,24%, tutup di level 6.340 di tengah aksi jual asing sebesar Rp932 miliar. Sektor Barang Konsumsi (+1,64%); Infrastruktur (+1,20%); dan Industri Dasar (+0,65%) menguat paling banyak. Sementara sektor dengan pelemahan terdalam dialami oleh Konstruksi (-2,23%); Agrikultur (-1,08%); dan Perdagangan (-0,33%). Untuk saham individual, menjadi leaders, sementara

menjadi laggards.

Yield SUN 10 tahun naik 7bps ke 7,57%

Bonds Market

SUN 10 tahun kembali mengalami kenaikan yield sebesar 35bps ke 7,57% pada minggu lalu. Sementara itu, Yield Indo USD 9 tahun juga naik 4bps ke level 3,18%, di tengah penurunan yield US Treasury 10 tahun ke 1,85%. Asing mencatatkan inflow Rp5,6 triliun pada obligasi pemerintah minggu lalu, hal ini membawa kepemilikan asing naik ke level 39,3%. BINDO mencatatkan pelemahan -1,54% week on week.

 

Sumber: Bloomberg, Principal Indonesia